Fish

Friday, December 19, 2008

Hukum Perkahwinan Janda

Dalilnya ialah:
¡°Perempuan janda lebih berhak pada dirinya daripada walinya dan perempuan perawan atau dara dikahwinkan oleh bapanya¡±.
(Riwayat Darul-Qutni)

Rasulullah saw bersabda:
¡°Seseorang yang bukan anak dara mempunyai hak yang lebih besar mengenai dirinya daripada penjaganya. Persetujuan seorang anak dara haruslah dipinta berkenaan dengan sesuatu mengenai dirinya dan diam membisu pada haknya itu adalah bererti memberikan persetujuan¡±.
(Riwayat Muslim)

Wali Mujbir atau wali-wali yang lain tidak boleh mengahwinkan perempuan janda kecuali hendaklah mendapat izin perempuan itu terlebih dahulu. Rasulullah saw telah bersabda:
¡°Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw bersabda, ¡°Perempuan janda diajak bermusyawarah tentang urusan dirinya, kemudian jika ia diam, maka itulah izinnya, tetapi jika ia menolak maka tiada paksa ke atasnya¡±.
(Riwayat Al-Khamsah kecuali Ibnu Majah) Dalam hadith yang lain, Rasulullah saw telah menyatakan:
¡°Dari Khansa¡¯ binti Khadam, bahawasanya bapa Khansa¡¯ telah mengahwinkan dia, sedang ia perempuan janda, lalu ia tidak suka demikian itu. Kemudian ia datang kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah menolak perkahwinan itu¡±.
(Riwayat Al-Bukhari dan Ahmad) Ini bermakna perempuan janda mempunyai bidang kuasa menolak perkahwinan yang dibuat tanpa kebenarannya iaitu ia boleh menfasakhkan perkahwinan itu di Mahkamah Syariah.

Janda ada hak atas diri dia dalam urusan nikah ... anak dara kena ada wali.

but there's a twist there ... kan ke antara syarat sah nikah .. tak kira janda atau anak dara ... adalah perlu adanya wali. kalau bapak takde, bapak sedara la orangnya jadi wali dan seterusnya ikut susur galur yang dah ditetapkan.

RUKUN-RUKUN AKAD NIKAH
Rukun-rukun akad nikah (yang tidak sah suatu pernikahan tanpa salah satunya) ialah :

[1]. Izin dari wali perempuan
[2]. Adanya keredhaan dari pihak perempuan, baik ia berstatus gadis perawan ataupun janda.
[3]. Dua saksi yang adil
[4]. Adanya ijab dan qabul yang bersambung dengan lafazh qabul (menerima) atau menikahkan.

masalahnya ... memang rita boleh bernikah ikut suka dia dengan siapa pun sebab dia janda ... tapi bapak dia masih ada .. so peranan bapak dia sebagai wali dalam pernikahan dia tak pernah jatuh walaupun dia dah janda.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu anha'.

"Ertinya : Siapapun seorang wanita yang menikahi dirinya sendiri tanpa persetujuan dari walinya, maka nikahnya batal, nikahnya batal, dan nikahnya batal"

Ibnu Hazm berkata. "Tidak halal bagi seorang perempuan untuk menikah (baik janda atau perawan), kecuali dengan izin wali dari bapanya, saudaranya,
datuknya, atau bapa saudaranya"

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Ertinya : Tidak sah pernikahan tanpa adanya wali, dan seorang penguasa sebagai wali bagi orang yang tidak mempunyai wali".

dalam hal rita ni .. aku rasa mungkin dia berwalikan hakim sebab parents dia pun tak tau dia dah menikah .. kalau sungguh tak tau la.

http://eforum2.cari.com.my/viewthread.php?tid=341431&extra=page%3D1&page=39

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...